Google
 

24 January 2007

Latihan Pola Gerakan


Kegagalan Anak atau Kesalahan Pelatihan


Saat kongkow-kongkow menunggu anak berlatih bulutangkis, salah satu bahan bahan pembicaraan para orang tua adalah tentang seputar bulutangkis dan kemajuan anak dalam pelatihan. Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa anak-anak tidak dapat menerapkan segala hal yang telah diberikan dalam latihan pada saat uji kemampuan dalam sesi pertandingan. Anak-anak sering disalahkan oleh orang tua maupun pelatih karena melupakan atau tidak mampu menyerap pola gerakan atau teknik pukulan yang telah mereka pelajari sebelumnya.

Menurut saya, keadaan itu bukanlah semata-mata kesalahan atau tanda ketidakmampuan sang anak menyerap materi pelatihan. Kegagalan anak kemungkinan berakar pada prinsip dan metode yang dipakai dalam proses pelatihan bulutangkis pada anak usia dini. Pelatihan yang sistematis dan masuk akal haruslah dilandasi pemahaman tentang bagaimana otak bekerja dan belajar pola gerakan baru. Dengan dasar pemahaman tersebut, pelatih dan orang tua dapat bekerjasama memperbaiki rancangan proses pelatihan bulutangkis pada anak. Dengan demikian, kemampuan anak dalam hal kecepatan, ketepatan dan ingatan belajar anak-anak dapat ditingkatkan dan diukur kemajuannya.

Penguasaan Pola Gerakan Baru

Tujuan latihan motor (yang meliputi meliputi otot dan syaraf) adalah mempelajari pola gerakan baru dan dapat melakukan pola gerakan tersebut secara otomatis tanpa harus berpikir tentangnya (proses otomatis). Pertanyaannya adalah, mengapa harus mempelajari pola gerakan baru dan bagaimana sebuah pola gerakan baru menjadi gerakan alamiah pada anak.

Mengapa harus mempelajari gerakan baru? Seratus tahun lebih, para atlit, pelatih dan pengamat bulutangkis menemukan bahwa metode serangan dan pertahanan tertentu memiliki keuntungan khusus dalam situasi pertandingan tertentu. Misalnya, dengan rotasi bahu atlit dapat memukul lebih kuat dibandingkan dengan tekukan sendi siku atau kedutan pergelangan tangan. Tata langkah (footwork) gunting lebih menguntungkan dibandingkan meluncur bagi profil fisik atlit pendek. Dan banyak lagi temuan dalam pola gerakan yang dihasilkan dari usaha coba-coba. Selanjutnya, penelitian dalam berbagai bidang ilmu seperti fisiologi, biomekanik dan syaraf sangat mempengaruhi penyusunan pola gerakan bulutangkis. Misalnya, pola gerakan yang dapat mengakibatkan tennis elbow dapat dijelaskan dan diperbaiki dengan menerapkan ilmu fisiologi. Hasil penerapan dalam pertandingan dan catatan-catatan hasil penelitian tersebutlah yang menghasilkan pola gerakan pada olah raga bulutangkis sekarang ini.

Bagi seorang anak (pemula) yang baru belajar, pola gerakan bulutangkis yang diajarkan oleh pelatih adalah tidak alami. Cobalah perhatikan (ingat) bagaimana cara anak mengayunkan raket pada awal ia mengikuti pelatihan yang berstruktur pada klup pembinaan. Misalnya, pola gerakan upperhead, sebuah pola gerakan yang biasanya pertama kali diajarkan pada anak yang baru berlatih. Setiap anak atau setiap orang saat pertama kali melakukan upperhead akan kesulitan dengan pola gerakan ini. Upperhead memang sulit dipelajari karena pola gerakan ini tidak alamiah bagi sebagian besar orang. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sangat jarang atau tidak pernah melakukan pola gerakan seperti pola gerakan upperhead. Untuk memahaminya, coba bayangkan pola gerakan ini dan carilah padanannya dalam kehidupan sehari-hari. Pola gerakan yang paling dekat dengan upperhead adalah gabungan gerakan menggalah buah di pohon yang tinggi dengan ayunan tangan saat menggebuk kasur. Kita memang jarang melakukan pola gerakan seperti upperhead dalam aktivitas kehidupan sehari-hari

Persoalan tambahan dengan pola gerakan pada olah raga bulutangkis adalah halangan budaya. Pada banyak kebudayaan di Indonesia, perempuan sangat disarankan untuk tidak mengangkat sikunya lebih tinggi dari ketiak. Menempatkan siku lebih tinggi dari ketiak adalah poisisi yang dianggap tidak sopan. Hal ini bisa kita lihat misalnya dalam berbagai bentuk tarian daerah. Penari perempuan sangat jarang menempatkan siku lebih tinggi dari ketiak. Akibatnya, untuk dapat mempelajari upperhead, anak perempuan di Indonesia harus mengatasi dua hal sekaligus yaitu ketidak alamiahan gerakan dan hambatan budaya. Mungkin, inilah salah satu yang membuat anak perempuan agak sedikit terlambat perkembangannya dibandingkan anak lali-laki dalam mempelajari pola gerakan bulutangkis.

Pokok pikiran yang hendak saya tekankan adalah bahwa pola gerakan pada olah raga bulutangkis kebanyakan tidak aplikabel dalam kehidupan nyata sehari-hari. Oleh karena itu, pola gerakan pada olah raga bulutangkis yang benar harus dipelajari seperti orang Indonesia mempelajari makan pakai sumpit. Hal ini perlu dipahami oleh para pelatih dan orangtua.

Selanjutnya, bagaimana pola gerakan bulutangkis yang tidak alamiah tersebut dilatih hingga menjadi gerakan alamiah pada anak? Untuk mendapatkan kemampuan baru atau merubah (meningkatkan) kemampuan yang ada, otak si anak harus melalui dua tahap:
Memproses informasi baru secara sadar (proses terkendali)
Setelah beberapa waktu, kemampuan baru ini kemudian menanamkan tindakan baru atau perubahan ke dalam wilayah otomatis dari otak dari anak.

Melalui latihan yang sistematis dan terstruktur, sebuah tindakan kemudian menjadi otomatis dan tidak membutuhkan pikiran sadar dan dapat dianggap sebagai kemampuan proses otomatis. Kembali pada contoh pemakaian sumpit: awalnya kita harus konsentrasi dengan makanan yang akan dicapit, gerakan otot jari, posisi tangan, jarak antara mangkuk - mulut dan sebagainya. Setelah terbiasa, kita bisa makan dengan sumpit sambil bercanda tanpa harus memikirkan lagi gerakan pola gerakan tersebut.

Muatan Materi Pelatihan

Otak mempunyai kemampuan yang terbatas untuk melakukan proses terkendali. Keterbatasan ini membatasi tahap pertama dari penyerapan anak terhadap kemampuan baru atau sebuah pola gerakan baru. Jumlah proses terkendali dapat dijelaskan sebagai sejumlah variabel dan keputusan yang harus dipertimbangkan oleh anak didik secara sadar saat mempelajari pola gerakan baru dalam situasi permainan bulutangkis. Ini dapat berupa:

Rangsangan – seperti gerakan shuttlecock, tindakan lawan atau umpan balik dari pelatih:

  1. Membuat keputusan – apa yang dilakukan dan kapan;
  2. Memodifikasi atau mempelajari tindakan baru.
  3. Proses terkendali berlebihan muatan terjadi ketika pelatih memberikan terlalu banyak materi yang harus diproses. Ini berakibat pada pengurangan kecepatan kemapuan berlatih anak didik. Untuk itu, pelatih harus mengurangi muatan proses terkendali. Aturan umum yang harus dipegang adalah memberikan anak didik kesempatan untuk mempelajari satu hal dalam satu kesempatan.

    rally dalam permainan bulutangkis, pemain menjalankan tiga proses secara simultan:

    1. Menyerap rangsangan – mendapatkan informasi dari lingkungan
    2. Kendali gerak – memilih dan menentukan tindakan
    3. Membuat keputusan – menghubungkan rangsangan ke kendali gerak

    Penyerapan rangsangan melibatkan pengenalan dan pengolahan rangsangan yang dianggap penting yang meliputi posisi dan gerakan pemain di lapangan serta gerakan shuttlecock. Kendali gerak melibatkan pengaktifan rangkaian otot untuk menghasilkan tindakan. Ini meliputi pukulan dan gerakan.

    Pengambilan keputusan didasarkan pada rangsangan. Dalam respon terhadap situasi, anak didik akan memutuskan tindakan yang mana yang diambil. Dengan demikian, pengambilan keputusan adalah adalah perekat antara penyerapan rangsangan dan kendali gerakan.

    Untuk menhindari proses terkendali kelebihan muatan , ketiga proses mental ini harus dilatih secara terpisah. Artinya, hanya ada satu proses mental yang dipraktekkan dalam satu situasi pelatihan atau pada saat proses yang lain telah dilatih menjadi situasi otomatis.

    Metode Pelatihan Proses Mental:
    Penyerapan rangsangan:

    1. Anak didik memukul shuttlecock ke pelatih (atau anak lain)
    2. Pelatih kemudian memukul (seterusnya dengan berbagai variasi pukulan)
    3. Anak didik harus menyebutkan dengan keras jenis pukulan apa yang dilakukan pelatih. Dengan cara ini, anak mengenali arah, jarak, lintasan dan lain sebagainya. Anak sama sekali tidak boleh merespon secara fisik terhadap pukulan tersebut karena akan melibatkan kemampuan motor dan pengambilan keputusan.

    Latihan lain adalah dengan menggunakan klip video dan teknologi komputer. Klip video dapat direkam dari sisi pandang pemain dan diolah sehingga komputer dapat mengenali jenis pukulan apa yang sedang dimainkan dan kapan. Anak sebagai pemain dapat berlatih mengenal jenis pukulan pada komputer. Komputer dapat merekam seberapa akurat informasi diolah dan seberapa cepat.

    Kendali gerak

    Anak didik diberikan situasi yang berulang-ulang yang berubah sedikit mungkin (untuk menghindari kebutuhan mengambil keputusan).
    Bentuk latihan ini membutuhkan umpan yang sangat tepat dan dilakukan berulang-ulang pada tempat yang sama
    Anak didik mengulangi pukulan atau gerakan yang sama pada tempat yang sama
    Pembuatan keputusan:
    Ketika pemain dapat mengenal satu set situasi dan mempunyai kemampuan motor untuk digunakan merespon satu situasi, pemain kemudian dapat dilatih untuk mengasosiasikan respon tindakan yang benar dengan rangsangan yang diberikan. Contohnya:
    1. Anak didik memukul ke pelatih (atau pemain lain)
    2. Pelatih memukul dengan jenis pukulan pilihannya
    3. Pemain kemudian merespon dengan tindakan yang benar (kemampuan gerak)

    Variasi Pelatihan Kemampuan Gerak

    Telah diketahui bahwa daripada berlatih satu tindakan berulang-ulang, lebih baik untuk melakukan variasi tindakan secara terus menerus. Walaupun jika hanya ada satu hasil yang diharapkan, berlatih tindakan yang berbeda tapi memberikan hasil yang sama (misalnya: melakukan variasi pada kecepatan dan jarak) memungkinkan otak untuk belajar lebih tentang tindakan secara umum).

    Contohnya, dalam satu studi (Shea & Kohl 1991), dua kelompok dilatih untuk mampu secara tepat menekan satu peralatan dengan daya yang ditentukan. Satu kelompok dilatih hanya pada daya yang ditentukan, sementara kelompok lain dilatih pada empat daya yang berbeda termasuk daya yang ditentukan (jumlah latihan sama pada masing-masing daya sehingga mereka hanya berlatih lebih sedikit pada daya yang ditentukan). Kelompok yang dilatih hanya kemampuannya pada daya yang ditentukan dapat dengan cepat menguasai kemampuat tersebut dengan cepat. Walaupu demikian, ketika diuji kemudian, kelompok yang dilatih dengan berbagai daya memiliki kemampuan yang lebih baik melebihi kemampuan kelompok yang hanya dilatih pada daya yang ditentukan.

    Beberapa studi lain telah menguatkan hasil studi ini. Singkatnya, pelatihan pada item tunggal akan membuat atlit cepat menguasai satu kemampuan. Walaupun demikian, pada jangka panjang, latihan yang beragam menghasilkan kemampuan dan penampilan yang lebih baik. Tetap harus diingat, variasi harus diberikan hanya pada pelatihan kemampuan motor.

    Untuk pelatihan bulutangkis usia dini, ini berarti bahwa pada saat pertama kali belajar memukul, materi harus dikelompokkan. Misalnya, daripada hanya melatih satu pukulan seperti smash, pelatih dapat merubah posisi tangan dalam setiap pukulan – smash, past drop, half smash, slow drop, smash, fast drop, dst. Kemudian, untuk memyempurnakan ketepatan, lakukan satu pukulan, tetapi ragamkan sudutnya setiap waktu atau ragamkan posisi lapangan tempat pukulan dilakukan. Harus diingat bahwa jika posisi lapangan beragam, pelatih harus menghindari kelebihan pengolahan terkendali dengan latihan rangsangan dan respon. Lebih baik melakukan ini dengan umpan tepat di posisi yang sudah diketahui atau dengan pelatihan ketepatan setelah rangsangan dan respon telah dilatih sampai tahap tingkat otomatis pada situasi itu.

    Ketika menggunakan variasi, perkembangan yang berlangsung memang lambat tetapi latihan yang beragam akan menjadikan memampuan itu melekat dan menjadi bagian dari si atlit.


Seputar Bulutangkis
bulutangkisindonesia.blogspot.com


No comments:

“ATHLETES FIRST, WINNING SECOND”