Google
 

21 June 2007

Bulutangkis Ready Papan

Kompas 21 Juni 2001


"SMES...," teriak penonton. Sontak atlet itu melompat sambil mengayunkan raket dari papan untuk memukul bola. Pukulannya keras sehingga bola itu menghunjam di sektor kiri lawan. Tetapi, lawannya cukup sigap. Dengan congkelan keras, berhasil mengembalikan bola itu tinggi-tinggi ke belakang.

Itulah permainan bulu tangkis ready papan yang kini sangat populer di beberapa daerah di Sulawesi Selatan, khususnya di tiga kabupaten di Sulawesi Selatan yang berada di sebelah Utara Makassar. Ketiga kabupaten tersebut yakni Polewali Mamasa (247 kilometer), Majene (302 kilometer), dan Mamuju (443 kilometer).

Olahraga ini diadaptasi langsung dari bulu tangkis. Maka bentuk permainan dan cara perhitungan point ready papan berikut bentuk lapangan maupun netnya, sama persis dengan bulu tangkis. Bedanya hanya pada bentuk raket dan bola, ukuran lapangan serta jarak net ke lapangan.

Kalau normalnya lapangan bulu tangkis untuk ganda berukuran panjang 13,40 meter dan lebar 6,10 meter, serta untuk tunggal berukuran panjang 13,40 meter dan lebar 5,18 meter, maka lapangan ready papan diperkecil menjadi lebar 4 meter dan panjang 8 meter. Kalau pada lapangan bulu tangkis tinggi atau jarak net dihitung dari lantai hingga ke ujung tiang 1,52 meter, maka pada lapangan ready papan dikurangi hingga menjadi sekitar 130 cm. Kalau melihat ukuran berat bola bulu tangkis yang normal antara 4,73-5,50 gram, praktis berat bola readypapan sudah sangat jauh dari yang seharusnya.

Yang unik sekaligus yang menjadikan namanya ready papan, adalah bentuk raketnya. Selain ukurannya kecil yakni panjang 40 cm dan garis tengah antara 12 cm-15 cm, raket ini juga terbuat dari papan. Karena pertimbangan ini pula, tak heran bolanya juga berbeda dengan bola yang biasa dipakai pada bulu tangkis kendati pada dasarnya sama. Bedanya terletak pada penambahan bulu ayam dan pelapisan karet pada bagian pantat bola. Bahkan tak jarang pada bagian bawah ini ditusuk jarum pentul kecil sebanyak delapan buah. Ini dilakukan untuk mencegah bola cepat rusak mengingat raketnya adalah papan.

Seperti pada olahraga bulu tangkis, dalam setiap pertandingan, dipertandingkan juga kelas tunggal putra dan putri, beregu putra dan putri, serta ganda campuran. Sebagai catatan, di beberapa event tingkat kabupaten, tak jarang penonton bahkan menjadikan pertandingan ini ajang taruhan.

***

OLAHRAGA ini berawal dari ketidakmampuan masyarakat membeli raket yang harganya selangit berikut bolanya yang kendati murah tetapi butuh beberapa buah sekali main. Itulah awal mula mengapa olahraga ini ada dan menjadi marak.

"Awalnya memang dari ketidakmampuan membeli raket. Belum lagi bola yang bisa habis berapa buah kalau latihan. Padahal keinginan dan minat main bulu tangkis di masyarakat sangat kuat. Apalagi kalau di tingkat nasional atau internasional sedang berlangsung pertandingan yang disiarkan di televisi," kisah Mardin (40), pegawai Dinas Kesehatan Majene yang tinggal di Kecamatan Tinambung, Polmas.

Tiga kabupaten yang masuk dalam wilayah Mandar (Polewali Mamasa, Majene, dan Mamuju) memang bukanlah daerah yang kaya-kaya amat kalau melihat PAD-nya. Kasarnya kalau mau membandingkan, di daerah ini, urusan isi perut atau keperluan pokok lainnya jauh lebih penting dari sekadar membeli raket dan bola.

Tak heran di kalangan kanak-kanak, ketika keinginan untuk bermain bulu tangkis makin kuat, pilihan akhirnya jatuh pada potongan-potongan kayu atau tripleks. Bahkan di dusun-dusun, pelepah kelapa yang umumnya agak besar di bagian pangkalnya, dimodifikasi jadi raket. Bolanya, menggunakan bola bekas latihan atau bertanding yang dimodifikasi dengan ditambah bulu ayam dan karet.

Bahkan acapkali, bolanya dibuat dari gulungan daun pisang kering yang dibentuk sedemikian rupa hingga menyerupai bola. Daun pisang kering juga yang kerap dianyam atau diikat-ikat hingga menyerupai net dan dibentangkan di antara batang-batang pohon kelapa atau pisang. Kerap kali bolanya juga dibuat sendiri dari bulu ayam yang ditancapkan pada pelepah atau batang pisang.

Lama-kelamaan, entah siapa yang memulai dan tepatnya dari desa mana, akhirnya timbul ide membuat raket dari papan yang bentuknya betul-betul menyerupai raket asli. Ukurannya diperkecil kira-kita lebih besar dari bad tenis meja tetapi lebih kecil dari raket bulu tangkis. Pemilihan ukuran ini juga mengingat bahannya yang dari kayu yang pasti akan sangat berat bila seukuran raket asli. Dengan ini olahraga ini tidak berkesan main-main lagi tetapi jadi sungguh-sungguh. Singkat cerita, jadilah permainan bulu tangkis yang mengasikkan, nature serta tak terlalu menguras biaya. Tak hanya kanak-kanak, permainan ini juga dimainkan orang dewasa.

Yang jelas olahraga ini tumbuh dari masyarakat. Bagaikan bola salju yang terus menggelinding, olahraga ini terus berkembang. Masyarakat benar-benar gandrung. Tak terhitung sudah berapa banyak event perlombaan yang dilaksanakan mulai dari tingkat desa hingga antarkabupaten. Bahkan di beberapa instansi pemerintah dan perusahaan swasta, olahraga ini juga sudah punya jadwal wajib, di samping senam, voli atau jenis olahraga lain yang lazim selama ini. Menyusul maraknya olahraga ini, bermunculan pula PB-PB (Persatuan Bulu tangkis) ready papan mulai dari tingkat dusun hingga tingkat kabupaten, termasuk di instansi-instansi pemerintah maupun perusahaan swasta.

***

PADA mulanya memang ada rasa malu bahkan gengsi di kalangan masyarakat kelas atas untuk ikut memainkan olahraga jenis ini mengingat asal mula adanya olahraga ini. Tetapi, keasyikan dan kegandrungan masyarakat mengalahkan semua rasa itu.

"Asyiknya olahraga ini karena memukulnya lebih keras dari permainan bulu tangkis sebagaimana biasanya. Jadinya betul-betul menguras tenaga dan membakar lemak. Lagipula enak mendengar suara plok-plok-plok dari bola yang dipukul raket papan," ujar Ny Kardi, anggota Dharma Wanita PLN Polmas.

Sebenarnya bila mau mencermati lebih jauh, di Indonesia permainan bulu tangkis menggunakan raket papan bukan lagi hal yang betul-betul baru. Di hampir seluruh wilayah Indonesia sejak dulu sudah sering terlihat anak-anak kecil yang bermain bulu tangkis menggunakan potongan kayu, tripleks atau alat seadanya, bahkan penutup panci. Bolanya bisa buatan sendiri atau menggunakan bulu bekas berlatih atau bertanding.

Hanya, entah apa sebab dan bagaimana awal mulanya, hingga di tiga kabupaten ini, bulu tangkis ready papan betul-betul jadi marak dan membuat masyarakat jadi tergila-gila. Buktinya hampir setiap bulan ada saja yang menggelar pertandingan dan selalu ramai. Tidak jarang masyarakat dari kabupaten Polmas, misalnya, mengikuti pertandingan di Majene kendati pertandingan yang digelar bukan antarkabupaten. Begitu pun sebaliknya. Praktis ini juga terjadi pada para penonton. Ini dilakukan jika para pemain atau penonton sudah tak sabar menunggu dan belum ada yang menggelar pertandingan di daerahnya.

Bahkan belakangan, menyusul maraknya olahraga ini bermunculan pula usaha-usaha kecil yang mengkhususkan pada pembuatan raket papan. Harganya bervariasi mulai Rp 5.000-Rp 7.000 per pasang, tergantung jenis kayu yang digunakan. Sementara itu modifikasi bola tidak berubah, artinya walaupun, misalnya, menggunakan bola baru, tetap ditambah bulu ayam dan karet agar tidak cepat rusak.

Begitulah.., hingga kini, di tengah gencarnya berbagai temuan baru yang kental teknologi yang tidak sedikit juga menyentuh bidang olahraga, masyarakat Mandar di tiga kabupaten, tetap dengan keasyikannya bermain ready papan yang sangat nature. Kalau mulanya masih ada sedikit rasa malu atau bahkan gengsi dengan olahraga yang asalnya dari "ketidakmampuan" ini, maka saat ini yang ada adalah rasa bangga dan semangat untuk terus memajukan olahraga ini.

"Kami bahkan berniat terus memasyarakatkan ready papan. Barangkali saja kelak kami dapat jadi tuan rumah untuk event bertaraf nasional dan bukan lagi antardusun atau antarkabupaten. Barangkali saja olahraga ini bisa meluas ke daerah lain," harap Mardin yang bersama teman-temannya kerap mengadakan berbagai event pertandingan mulai tingkat dusun hingga antarkabupaten. (Reny Sri Ayu Taslim)

No comments:

“ATHLETES FIRST, WINNING SECOND”