Google
 
Showing posts with label Badminton General. Show all posts
Showing posts with label Badminton General. Show all posts

26 September 2007

Olah Raga: Haruskah Dihentikan Selama Ramadan?


Oleh H.Y.S. Santoso Giriwijoya, Drs. Psi.




DALAM bulan Ramadan, tugas sehari-hari harus tetap kita lakukan seperti biasa. Tidak ada yang menyebutkan kita berhak mendapat keringanan atau menunda pelaksanaan tugas sampai setelah bulan Ramadan berakhir. Kita menjalani puasa atas kemauan sendiri demi ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya untuk mendapatkan rahmat-Nya untuk mendapatkan rahmat-Nya. Surat Al Imran ayat 132: ”Taatilah Allah dan Rasul-Nya agar kamu diberi rahmat”. Jadi tidak boleh ada ungkapan misalnya: ”Dalam bulan Ramadan mana mungkin melakukan olah raga? Tugas pekerjaan harus dikurangi dan sebagainya, dan sebagainya! Ungkapan itu menunjukkan bahwa ia ingin mendapatkan keringanan dalam tugas harian sebagai syarat melaksanakan puasa wajib.

Orang bertakwa taat menjalankan perintah Allah tanpa mengajukan syarat apa pun termasuk dalam tugas sehari-hari yang tetap harus kita jalankan adalah memelihara kesehatan melalui olah raga. Demi tetap terpeliharanya kesehatan kita dan memelihara prestasi cabang olah raga yang telah kita miliki.

Bila selama seluruh bulan Ramadan olah raga dihentikan, berakibat menurunnya kemampuan fungsional kita. Ketiadaan gerak selama satu minggu menurunkan kekuatan otot sekira 10-15% dan dalam tiga minggu kapasitas kerja menurun 20%-25%. Mendapatkan kembali apa yang telah hilang memerlukan usaha yang lebih berat dan pada menjaga dan memeliharanya. ”Pemeliharaan kesehatan maupun prestasi olah raga memerlukan pemeliharaan yang bersinambungan”.

Masalah yang terpenting adalah bagaimana mengatur kehidupan selama bulan Ramadan agar tugas sehari-hari tetap dapat dijalankan dan ibadah keagamaan dapat lebih ditingkatkan.

Makan sangat perlu oleh karena makanan adalah sumber daya (energi) untuk kehidupan termasuk untuk bekerja dan berolah raga. Makan minum harus dihentikan antara saat imsak sampai setelah azan magrib. Akan tetapi, untuk dapat melakukan olahraga, penyediaan sumber daya tidak menjadi masalah karena ada makan sahur. Jadi, makan sahur memang sangat perlu ‘kebutuhan kalori + 25-30 Kcal/Kg BB/hari, umumnya dapat dipenuhi dengan baik. Kerawanan yang sering terjadi ialah karena kurangnya pemahaman akan susunan makanan yang seimbang.

Kebutuhan protein 1-2 gram/kg BB/hari, tergantung berat aktivitas fisik sehari-hari. Kandungan protein makanan sehari-hari cukup 15-20%. Protein bukan sumber daya (energi) utama. Sumber daya utama (55-65%) adalah karbohidrat (beras, jagung, ubi, tepung terigu). jadi tidak perlu makan protein berlebihan! sebutir telur ayam beratnya kl. 0,60 gram. Satu atau dua butir telur setengah matang atau matang (lebih mudah dicerna) di samping sumber protein lainnya pada saat makan sahur, sangat mencukupi kebutuhan. Dengan menyertakan sebutir telur sewaktu makan sahur insya Allah segala keluhan yang berhubungan dengan laparnya orang berpuasa tidak akan mengganggu. Akan tetapi, yang lebih penting lagi ialah menjaga jumlah air tubuh dengan cukup banyak minum. Khususnya setelah makan minum saat sahur, tambahkan secara sadar dua gelas air minum. Air merupakan prioritas kehidupan kedua setelah O2, jadi jumlah air tubuh harus selalu cukup. Ginjal memerlukan air untuk dapat berfungsi normal (membuang racun sampah tubuh).

Dari sudur ilmu faal, puasa adalah menggeser waktu makan dari kebiasaan makan pada siang hari menjadi malam hari. Pergeseran waktu makan berakibat pergeseran waktu sekresi liur pencernaan dan hormon olah daya (metabolisme). Pergeseran waktu sekresi tidak mungkin berlangsung seketika bersama dengan dimulainya puasa, tetapi memerlukan waktu, yaitu masa penyesuaian yang berlangsung kl. 3 hari. Oleh karena itu, kecuali 3 hari pertama puasa, dosis olah raga dan tugas pekerjaan tidak perlu dikurangi, jadi lakukanlah olah raga dan tugas pekerjaan tetap seperti biasa!***

(Penulis adalah guru besar ahli ilmu faal dan ilmu faal olah raga)

14 May 2007



PENGURUS BESAR

PERSATUAN BULUTANGKIS SELURUH INDONESIA

2007


SISTEM RANKING

PERSATUAN BULUTANGKIS SELURUH INDONESIA

1. Definisi

Ranking Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) adalah daftar atlet/ pasangan atlet berdasarkan pengumpulan poin ranking hasil dari keikutsertaan dalam kejuaraan dengan pengaturan sebagai berikut:

1.1. Atlet/pasangan atlet memperoleh poin ranking dari keikutsertaannya pada kejuaraan yang telah ditentukan.

1.2. Atlet/pasangan atlet diberi peringkat jika telah bermain di dua kejuaraan atau lebih yang ditentukan dalam 12 bulan terakhir.

1.3. Level kejuaraan menentukan poin ranking maksimum. Makin tinggi level kejuaraannya akan makin tinggi poin ranking maksimumnya.

1.4. Babak pertandingan yang dimenangkan menentukan banyaknya poin ranking. Makin jauh babak pertandingan yang dimenangkan, makin banyak poin ranking yang diperoleh.

1.5. Jumlah poin ranking tersebut diurutkan menjadi Ranking PBSI.

1.6. Sistem ini mengadopsi sistem Badminton World Federation (BWF) dan ada integrasi dengan poin ranking yang didapat dari kejuaraan BWF.

2. Kejuaraan Yang Mendapatkan Poin Ranking

2.1. Kejuaraan yang disetujui oleh PBSI dari tingkat cabang, multi-cabang, daerah, multi-daerah, nasional, swasta yang diakui.

2.2. Kejuaraan BWF yang mehghasilkan poin ranking BWF termasuk pertandingan beregu Thomas Cup, Uber Cup, dan Sudirman Cup,

2.3. Kejuaraan multi-cabang olah raga seperti; Olympiade, Asian Games, SEA Games dan PON.

3. Jadwal Publikasi Ranking PBSI

Daftar ranking PBSI tingkat nasional, daerah, cabang PBSI dipublikasikan minimal satu bulan sekali dan pada umumnya dilakukan di awal bulan.

4. Sistem Poin Ranking

4.1. Atlet/pasangan atlet mendapatkan poin ranking lebih banyak berdasarkan sejauh babak mana mereka main dan menang.

4.2. Atlet/pasangan atlet yang masuk babak utama (main draw) otomatis mendapat poin ranking. Bila atlet/pasangan atlet kalah di babak pertama, maka mendapat poin ranking di babak pertama dan begitu seterusnya untuk babak-babak berikutnya.

4.3. Atlet/pasangan atlet yang mendapatkan kemenangan walkover (WO) berhak mendapat poin ranking kemenangan di babak itu. Atlet/pasangan atlet yang kalah tanpa bertanding tidak mendapat poin ranking kekalahan di babak itu.

Adapun yang dimaksud tidak mendapat poin ranking kekalahan di babak itu adalah:

4.3.1. Apabila atlet/pasangan atlet kalah tanpa bertanding di babak pertama, maka atlet/pasangan atlet tersebut tidak mendapat poin ranking.

4.3.2. Apabila atlet/pasangan atlet kalah tanpa bertanding di babak kedua, maka atlet/pasangan atlet tersebut hanya mendapatkan poin ranking di babak pertama, begitu seterusnya untuk babak-babak berikutnya.

4.4. Jika atlet/pasangan atlet dalam suatu pertandingan:

4.4.1. memperoleh bye di babak pertama dan kalah di babak kedua, mendapat poin ranking sama dengan atlet/pasangan atlet yang kalah di babak pertama.

4.4.2. memperoleh bye dibabak pertama, menang di babak kedua, dan kalah di babak ketiga, mendapat poin ranking sama dengan atlet/ pasangan atlet yang kalah di babak ketiga.

4.4.3. memperoleh bye di babak pertama, menang WO di babak kedua, dan kalah di babak ketiga, mendapat poin ranking sama dengan atlet/pasangan atlet yang kalah di babak ketiga.

4.4.4. memperoleh kemenangan WO di babak pertama dan kalah di babak kedua, mendapat poin ranking sama dengan atlet/pasangan atlet yang kalah di babak kedua.

4.5. Jika seorang atlet ganda berpasangan dengan dua atlet atau lebih yang berbeda maka nama atlet tersebut ditulis dua kali atau lebih dalam ranking dengan pasangan yang berbeda itu.

5. Perhitungan Poin Ranking Di Kejuaraan Beregu

5.1. Kejuaraan beregu yang mendapat poin ranking PBSI adalah:

5.1.1. Kejuaraan Nasional sistem Sudirman Cup,

5.1.2. Kejuaraan Liga Bulutangkis di Indonesia sistem Thomas Cup dan Uber Cup,

5.1.3. Kejuaraan beregu BWF mewakili regu Indonesia dalam kejuaraan Thomas Cup, Uber Cup, dan Sudirman Cup.

5.1.4. Kejuaraan beregu Asian Games, SEA Games dan PON.

5.2. Atlet/pasangan atlet hanya mendapatkan poin ranking dari hasil terbaik mereka dalam periode 12 bulan di semua kejuaraan beregu di atas:

5.2.1. jika atlet/pasangan atlet yang mempunyai ranking nasional memenangkan satu pertandingan, mereka mendapatkan poin rata-rata mereka (poin rata-rata dijelaskan dalam angka 5.2.6.) ditambah jumlah total poin ranking dari lawan dibagi 100.

5.2.2. jika atlet/pasangan atlet yang mempunyai ranking nasional kalah dalam satu pertandingan, mereka hanya mendapatkan poin rata-rata mereka sendiri.

5.2.3. jika atlet/pasangan atlet yang tidak mempunyai ranking nasional memenangkan satu pertandingan, maka mereka mendapat 1 poin ditambah jumlah total poin ranking lawan dibagi 100.

5.2.4. jika atlet/pasangan atlet yang tidak mempunyai ranking nasional kalah dalam satu pertandingan, maka mereka tidak mendapat poin ranking

5.2.5. jika atlet/pasangan atlet yang tidak mempunyai ranking nasional memenangkan pertandingan dan lawan juga tidak mempunyai ranking nasional, maka mereka mendapatkan 2 poin.

5.2.6. Poin rata-rata digunakan untuk menghitung poin ranking atlet/ pasangan atlet yang bertanding di kejuaraan beregu sebagai berikut:

5.2.6.1. Jika atlet/pasangan atlet bertanding kurang dari 11 kejuaraan dalam periode 12 bulan terakhir, poin rata-rata dihitung dari jumlah poin ranking yang didapatkan dibagi dengan jumlah kejuaraan yang diikuti.

5.2.6.2. Jika atlet/pasangan atlet telah bertanding di 11 kejuaraan atau lebih dalam periode 12 bulan terakhir, poin rata-rata dihitung dari 10 poin ranking tertinggi yang didapat dibagi dengan 10.

6. Jumlah Kejuaraan Yang Dihitung Dalam Perhitungan Ranking

6.1. Atlet Dewasa (umur bebas)

6.1.1. Jika atlet/pasangan atlet bertanding kurang dari 11 kejuaraan dalam 12 bulan terakhir, maka ranking dihitung dengan menambah poin ranking yang didapatkan dalam kejuaraan-kejuaraan itu.

6.1.2. Jika atlet/pasangan atlet bertanding sebanyak 11 kejuaraan atau lebih dalam 12 bulan terakhir, maka hanya 10 poin ranking tertinggi yang dihitung.

6.1.3. Apabila poin ranking diperoleh dalam kejuaraan beregu bisa masuk 10 besar terbaik dari poin ranking yang diraih atlet/ pasangan atlet, maka poin ranking tersebut juga bisa dihitung.

6.1.4. Maksimum satu kejuaraan beregu dengan poin ranking tertinggi yang dapat dihitung poin rankingnya.

6.2. Atlet Taruna (umur di bawah 19 tahun)

6.2.1. Jika atlet/pasangan atlet bertanding kurang dari 9 kejuaraan dalam 12 bulan terakhir, maka ranking dihitung dengan menambah poin ranking yang didapatkan dalam kejuaraan-kejuaraan itu.

6.2.2. Jika atlet/pasangan atlet bertanding sebanyak 9 kejuaraan atau lebih dalam 12 bulan terakhir, maka ranking dihitung dari hasil penjumlahan 8 poin ranking yang tertinggi.

6.2.3. Apabila poin ranking yang diperoleh dalam kejuaraan beregu bisa masuk 8 besar terbaik dari poin ranking yang diraih atlet/pasangan atlet, maka poin ranking tersebut juga bisa dihitung.

6.2.4. Maksimum satu kejuaraan beregu dengan poin ranking tertinggi yang dihitung poinnya.

6.3. Atlet Remaja (umur di bawah 16 tahun)

6.3.1. Jika atlet/pasangan atlet bertanding kurang dari 7 kejuaraan dalam 12 bulan terakhir, maka ranking dihitung dengan menambah poin ranking yang didapatkan dalam kejuaraan-kejuaraan itu. /

6.3.2. Jika atlet/pasangan atlet bertanding sebanyak 7 kejuaraan atau \ lebih dalam 12 bulan terakhir, maka ranking dihitung dari hasil penjumlahan 6 poin ranking yang tertinggi.

6.3.3. Apabila poin ranking diperoleh dalam kejuaraan beregu bisa masuk 6 besar terbaik dari poin ranking yang diraih atlet/pasangan atlet, maka poin ranking tersebut juga bisa dihitung.

6.3.4. Maksimum satu kejuaraan beregu dengan poin ranking tertinggi yang dihitung poinnya.

6.4. Atlet Pemula (umur di bawah 14 tahun)

6.4.1. Jika atlet/pasangan atlet bertanding kurang dari 7 kejuaraan dalam 12 bulan terakhir, maka ranking dihitung dengan menambah poin ranking yang didapatkan dalam kejuaraan-kejuaraan itu.

6.4.2. Jika atlet/pasangan atlet bertanding sebanyak 7 kejuaraan atau lebih dalam 12 bulan terakhir, maka ranking dihitung dari hasil penjumlahan 6 poin ranking yang tertinggi.

6.5. Atlet Anak-Anak (umur di bawah 12 tahun)

6.5.1. Jika atlet/pasangan atlet bertanding kurang dari 5 kejuaraan dalam 12 bulan terakhir, maka ranking dihitung dengan menambah poin ranking yang didapatkan dalam kejuaraan-kejuaraan itu.

6.5.2. Jika atlet/pasangan atlet bertanding sebanyak 5 kejuaraan atau lebih dalam 12 bulan terakhir, maka ranking dihitung dari hasil penjumlahan 4 poin ranking yang tertinggi.

6.6. Atlet Usia Dini (umur di bawah 10 tahun)

6.6.1. Jika atlet/pasangan atlet bertanding kurang dari 3 kejuaraan dalam 12 bulan terakhir, maka ranking dihitung dengan menambah poin ranking yang didapatkan dalam kejuaraan-kejuaraan itu.

6.6.2. Jika atlet/pasangan atlet sebanyak 3 kejuaraan atau lebih dalam 12 bulan terakhir, maka ranking dihitung dari hasil penjumlahan 2 poin ranking yang tertinggi.

6.7. Atlet Veteran

6.7.1. Jika atlet/pasangan atlet bertanding kurang dari 3 kejuaraan dalam 12 bulan terakhir, maka ranking dihitung dengan menambah poin ranking yang didapatkan dalam kejuaraan-kejuaraan itu.

6.7.2. Jika atlet/pasangan atlet bertanding sebanyak 3 kejuaraan atau lebih dalam 12 bulan terakhir, maka ranking dihitung dari hasil penjumlahan 2 poin ranking yang tertinggi.

6.8. Atlet/pasangan atlet semua kelompok umur dapat mengikuti kejuaraan yang tidak melanggar ketentuan kejuaraan kelompok umur. Poin ranking yang didapat dihitung sesuai kelompok yang diikuti dan dapat dihitung untuk menentukan ranking pada beberapa kelompok yang sesuai umur atlet itu.

Contoh:

Mia, umur 13 tahun, jadi bisa dikategorikan Dewasa, Taruna, Remaja,

dan Pemula. Namun Mia tidak boleh ikut kejuaraan kelompok Veteran

35+, 45+ dst.

Mia mengikuti Sirkuit Nasional Dewasa dan berhasil masuk semifinal.

Poin ranking yang Mia dapatkan 1170. Angka 1170 ini diperhitungkan

di pengumpulan poin ranking Mia di kategori Dewasa (jika termasuk 10

hasil terbaik Mia), Taruna (jika termasuk 8 hasil terbaik Mia), Remaja

(jika termasuk 6 hasil terbaik Mia), dan Pemula (jika termasuk 6 hasil

terbaik Mia).

7. Daftar Peringkat Ranking

7.1. Atlet/pasangan atlet dengan jumlah poin ranking tertinggi akan berada di peringkat ranking tertinggi dan seterusnya secara berurutan

7.2. Jika dua atlet/pasangan atlet atau lebih mempunyai poin ranking yang sama, maka atlet/pasangan atlet yang bermain lebih banyak mendapatkan ranking yang lebih tinggi.

7.3. Jika dua atlet/pasangan atlet atau lebih mempunyai poin ranking yang sama dan bertanding dengan jumlah kejuaraan yang sama, maka mereka mempunyai ranking yang sama Contoh:

Lima pemain di peringkat 1 s.d. 5, kemudian 3 pemain berikutnya mempunyai poin ranking yang sama, maka urutan rankingnya adalah : 1,2,3,4,5,6,6,6,9,10.

Atlet/pasangan atlet yang sudah tidak bertanding dalam kurun waktu 12 bulan terakhir dianggap tidak mempunyai Ranking

22 March 2007

Bercermin pada Tim Yunior Korsel

KOMPAS, 12 Agustus 2003


GANDA putri pelatnas bulu tangkis Indonesia, Heni Budiman/Greysia Polii, telah memasuki poin-poin tua di game kedua saat unggul 13-3 atas ganda Korea Selatan Ha Jun-eun/Oh Seul-ki. Namun, itulah angka yang tertinggi bagi Heni/Greysia karena Ha/Oh mengunci dan terus melaju untuk meraih kemenangan 15-13. Ha/Oh menjadi juara dalam partai final terakhir Milo Indonesia Terbuka Yunior tersebut karena di game pertama keduanya menang telak 15-2.

Secara keseluruhan, para pemain pelatnas Indonesia yang bermarkas di Cipayung merajai turnamen dengan merebut tiga gelar juara, yaitu di tunggal putri, ganda putra, dan ganda campuran. Dalam dua nomor terakhir, bahkan terjadi final sesama pemain Cipayung.

Tim yunior Korea Selatan (Korsel) sendiri cuma mencuri satu gelar lewat ganda putri 16 tahun, Ha/Oh. Namun, hasil tersebut sudah membuat Manajer tim Lee Deuk-choon terus tersenyum.

Sukseskah lawatan tim Korsel ke Yogyakarta kali ini? Bila melihat statistik hasil yang diraih delapan pemain putra dan empat putri Korsel, jawabannya sangat tegas: sukses!

Korsel datang membawa para pemain yunior berusia 14 tahun (dua atlet), empat atlet berusia 15, empat berumur 16 tahun, dan dua berusia 17 tahun. Dengan materi 12 pemain mereka merebut 17 tempat di perdelapan final dari lima nomor pertandingan.

Artinya dari total 32 partai pertandingan di babak tersebut, lebih dari separuhya (17 partai) melibatkan para pemain Korsel. Di perempat final, mereka meraih 12 tempat, enam tempat di semifinal dan dua tempat di final.

Statistik pelatnas Cipayung memang lebih baik. Dalam perdelapan final di kelima nomor pertandingan, para pemain yunior elite Indonesia merebut 18 tempat, 14 tempat, sembilan tempat di semifinal, dan enam tempat di final.

Hanya saja, Cipayung datang dengan kekuatan yang dua kali lebih besar dari tim Korsel. Tim Cipayung membawa 27 pemain.

Statistik tim Korsel yang memukau tersebut disebabkan sebagian besar pemain Korsel bermain di tiga nomor sekaligus. Menjadi hebat karena di tiga nomor tersebut mereka mampu mencapai babak-babak penting.

Tunggal putri Ha Jun-eun, misalnya, mencapai final di tunggal putri, juara di ganda putri, dan semifinal di ganda campuran. Pasangannya, Oh Seul-ki menorehkan hasil juara di ganda putri, semifinal ganda campuran, dan perempat final tunggal putri.

Statistik tersebut juga menggambarkan begitu prima dan siap kondisi para pemain remaja Korsel. Dengan bermain rangkap, Ha harus bertarung empat kali di hari kedua turnamen, Rabu pekan lalu. Semuanya dia menangi. Di hari ketiga, dia bertanding tiga kali, ketiga-tiganya juga menang. Pada Jumat (hari keempat), Ha tiga kali bertarung dan hanya satu partai yang harus dia serahkan untuk kemenangan lawan.

Pemain putra seperti Yoo Yeon-seong (17) bahkan harus bertanding lima kali di hari kedua kejuaraan. Pagi dimulai pukul 09.00, berpasangan dengan Oh Seul-ki, Yoo menyingkirkan ganda pelatnas Yoga Ukikasah/Rintan 17-14, 17-15. Sekitar pukul 11.30, Yoo mengalahkan tunggal putra pelatnas Stenny Kusuma 11-15, 15-13, 15-13.

Tiga jam kemudian, Yoo bermain di putaran kedua ganda putra bersama Jeon Jun-bum. Mereka menang mudah atas ganda Surya Naga Gudang Garam Surabaya Fauzy/Rizky 15-4, 15-2. Pada malam harinya, Yoo kembali berlaga di perdelapan final tunggal putra. Kali ini dia menyerah dari Alamsyah (Tangkas Bogasari) dalam permainan rubber game 5-15, 15-10, 2-15.

Kurang dari dua jam, Yoo/Jeon kembali turun dan menyingkirkan Tommy Sugiarto/Ahmad Rivai (Pelita-Jaya Raya Jakarta) 15-7, 15-3. Secara umum, Yoo memperoleh hasil perdelapan final tunggal putra, perempat final ganda putra, dan semifinal ganda campuran.

Manajer tim Lee hanya manggut-manggut tersenyum sambil menepuk dada saat Kompas mengingatkan, anak-anak asuhnya menjalani hari-hari yang melelahkan di Yogyakarta. "Saya tahu. Tetapi itulah yang harus dijalani. Mereka pemain yunior dan harus merasakan semua nomor. Beberapa baru akan memperoleh spesialisasi di satu dua-nomor tahun depan," kata Lee.

Lee menepis kekhawatiran para pemainnya akan mengalami cedera. Dia begitu yakin program latihan dan persiapan yang dijalani akan dapat memperkecil kemungkinan cedera. Porsi latihan elemen-elemen fisik memang banyak dilakukan para pemain di markas mereka di Seoul. Setiap hari, para atlet yunior memulai sesi latihan dengan berenang selama satu jam kemudian dilanjutkan pada pukul 10-12.00 dan pukul 15.00-17.30. Porsi latihan itu dijalani enam hari dalam sepekan dengan Minggu sebagai hari libur. "Para atlet juga mempunyai jadwal yang banyak untuk latihan fisik, seperti jogging, lari lintas alam, dan latihan beban," tambah Lee.

Di sepak bola, tahapan ini memaksa seorang atlet muda untuk dapat bermain di semua posisi: kiper, bek, gelandang, atau penyerang. Baru pada tahapan yang lebih lanjut, seorang atlet mengalami spesialisasi, apakah di tunggal, ganda, menjadi kiper, atau striker.

Menurut pelatih fisik senior Paulus Pasurney, bentuk pembinaan multilateral diterapkan pada atlet sebelum usia 17 tahun. Dalam hal ini, PBSI memang lebih dini melakukan spesialisasi.

Paulus juga tidak heran para pemain remaja Korsel mampu bertanding empat-lima kali dalam sehari. Adalah pakar kepelatihan Rusia, Petrovsky, yang dapat menjelaskan fenomena tersebut. Menurut Petrovsky, ada tiga etape pembinaan dalam olahraga.

Dalam etape pertama, seorang atlet akan dibina daya tahan, kekuatan, dan elemen-elemen kecepatan. Etape ini dilakukan dalam kurun pertama pembinaan seorang atlet, misalnya empat tahun. Etape kedua, adalah untuk membentuk kekuatan, daya tahan khusus, dan kecepatan. Setelah lolos dari etape tersebut, seorang atlet baru memasuki etape pembinaan terakhir, yaitu bentuk-bentuk latihan juara.

Kondisi fisik atlet Korsel yang begitu tangguh agaknya menjadi cerminan hal itu. Korsel begitu memperhatikan faktor yang harus dipompa pada atlet muda. Yaitu faktor agility berupa kekuatan, kecepatan, dan kelenturan. Porsi latihan faktor tersebut haruslah punya persentase yang besar di usia tersebut.

Banyaknya waktu latihan yang dimiliki remaja Korsel dapat menjadi gambaran bahwa mereka memperoleh latihan yang padat (volume tinggi) walaupun belum tentu keras. Yang jelas, mereka dipacu agar banyak komponen seperti kekuatan otot, daya tahan, kemampuan kardio vaskularnya terbentuk dengan baik.

Bila dihubungkan dengan tahapan Petrovsky, usia sebagian besar atlet Korsel tentunya sudah memasuki etape kedua pembinaan. Dalam etape itu, jelas Paulus, tidak akan dilihat apakah atlet dapat juara, tetapi bagaimana keuletan fisik (physical toughness) dan mental toughness seorang atlet. "Di tahapan inilah dapat dilihat siapa yang dapat terus dan siapa yang akan gugur," kata Paulus. (yunas santhani azis)


Seputar Bulutangkis
bulutangkisindonesia.blogspot.com


15 March 2007

Olahraga untuk Pencegahan & Penyembuhan Penyakit

Okki Syahbana
Tuesday, June 19, 2001 7:50 AM




Olahraga ternyata bukan hanya monopoli para atlet yang berlomba-lomba mengukir prestasi, juga bukan cuma sekedar cara untuk mempertahankan bentuk tubuh seperti yang banyak dilakukan wanita muda sekarang dengan body language, taebo, dan sebagainya itu. Dengan proporsi dan pilihan yang tepat—dan tentunya harus dilakukan teratur—olaraga ternyata dapat juga berfungsi mencegah dan membantu proses penyembuhan penyakit.

Obat yang diresepkan dr. Harold Elrick, seorang dokter umum senior di California, USA, mungkin tak dapat ditemui di apotik dan mungkin juga tak terlalu mudah untuk ditelan bulat-bulat. Sebenarnya, apa sih yang diresepkan dr. Elrick kepada pasien-pasiennya? Sederhana saja, dr. Elrick menyarankan banyak pasiennya untuk bangun dan bergerak (beraktivitas).

Dr. Elrick, kini 81 tahun, dokter tertua yang masih berpraktek di California dan masih sering berlari maraton, telah mulai mempelajari kekuatan olahraga untuk mencegah dan membantu proses penyembuhan penyakit sejak tahun 1950-an, jauh sebelum jogging dan berolah raga di pusat kebugaran menjadi populer. Dewasa ini, telah banyak riset yang membuktikan hipotesanya dan sejumlah peneliti lain masih terus mencoba menemukan manfaat lain dari olah raga selain untuk menjaga bentuk tubuh dan mencegah kegemukan. "Olah raga diindikasikan untuk sejumlah keadaan tertentu, seperti halnya obat-obatan," ujarnya. "Dan hebatnya lagi, olahraga memiliki lebih sedikit efek samping dibanding jenis pengobatan lainnya."

Tips Kesehatan

Pilih Naik Tangga
Anda tak punya waktu untuk berolah raga? Mengapa tak menggunakan tangga saja daripada menunggu lift? Awali dengan yang ringan saja. Mulailah dengan naik satu atau dua lantai saja. Kemudian tambahlah porsi secara bertahap. Lama-kelamaan anda akan terbiasa menaiki tangga dengan porsi yang cukup. Agar ada manfaatnya, lakukan paling tidak tiga kali dalam seminggu.

Makanan Berserat Mengurangi Risiko Kanker Usus
Bahkan, begitu besar pengaruh olahraga untuk pengobatan sampai-sampai seorang dokter bedah, David Satcher, MD, tahun lalu mempublikasikan laporan pertamanya tentang aktivitas fisik, dengan penekanan pada sejumlah keuntungan bagi kesehatan seperti "mencegah kematian dini, penyakit dan kecacatan yang tak perlu, mengendalikan biaya perawatan kesehatan, dan menjaga kualitas hidup yang tinggi hingga usia lanjut". Bukti-bukti medis tampaknya mampu menguatkan pendapat ini. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 12 persen angka kematian di AS disumbangkan oleh kurangnya aktivitas, begitu menurut laporan Asosiasi Jantung Amerika. Kurangnya aktivitas ini dikaitkan dengan meningkatnya resiko terserang berbagai penyakit, termasuk diabetes, kanker payudara dan usus besar, tekanan darah tinggi, stroke dan serangan jantung. Dan olah raga teratur sebenarnya mampu mencegah hal ini dan juga sejumlah kondisi lain, seperti sakit sendi(artritis) dan depresi. Apa sebenarnya yang membuat olahraga mampu berfungsi sebagai salah satu cara pengobatan yang efektif ?

Penyakit Jantung
Olahraga dapat memperkuat otot dalam tubuh anda yang bekeja paling keras, jantung. Olahraga teratur yang memacu tubuh anda mencapai detak jantung optimal—60 sampai 70 persen dari detak jantung maksimal—dapat membuat jantung anda berdetak secara lebih efisien, memperkuat pembuluh arteri dan melancarkan sirkualsi darah (untuk menghitung target detak jantung anda, kurangi umur anda dari 220, kemudian kalikan dengan 0,7 ). Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur mampu mengurangi resiko terkena penyakit jantung sebanyak 50 persen, menurunkan tekanan darah, menurunkan kadar kolesterol total dan meningkatkan kadar HDL, si ‘kolesterol baik’ yang membantu menyingkirkan LDL, si ‘kolesterol jahat’ dari arteri anda. Sebuah penelitian yang dilakukan tahun 1996 di University of Washington, Seattle, juga menunjukkan bahwa olahraga teratur menyebabkan perubahan kimia pada darah yang dapat membantu melindungi dari serangan jantung. Tapi harus diingat, bila anda telah menderita penyakit jantung, anda harus lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas fisik—jangan melakukan aktivitas yang berat-berat, karena otot jantung anda sudah tak sekuat normal lagi. Oleh karena itu, lebih baik mencegah sebelum terlambat bukan ?

Mengendalikan Berat Badan
Peraturannya sederhana saja: untuk mengurangi berat badan, anda harus membakar lebih banyak kalori daripada yang anda konsumsi. Dan aktivitas apakah yang mampu membakar kalori ? Tentunya aktivitas fisik. Selain itu, olahraga teratur juga menurunkan selera makan dan meningkatkan metabolisme, sehingga tubuh anda akan membakar kalori secara lebih efisien. Digabung dengan manfaat lainnya yaitu meningkatkan tonus dan kepadatan otot, olahraga menjadi kunci sukses program penurunan berat badan manapun. Penurunan berat badan memiliki konsekuensi medis yang cukup penting, mengingat kegemukan merupakan faktor resiko bagi sejumlah penyakit seperti penyakit jantung, diabetes dan kanker.

Diabetes Mellitus
Olahraga akan menguntungkan penderita diabetes, baik tipe I maupun tipe II. Olahraga membantu menurunkan kadar gula darah dengan memindahkan glukosa dari peredaran darah untuk digunakan sebagai sumber energi selama dan setelah berolah raga. Olah raga juga membantu menunda atau mencegah timbulnya penyakit jantung dan pembuluh darah besar (kardiovaskular), ‘pembunuh’ utama bagi penderita diabetes. Bahkan, olahraga dapat mengurangi kebutuhan akan insulin pada penderita diabetes tipe I (tergantung insulin) dan mengurangi atau menghilangkan sama sekali penggunaan insulin atau obat-obatan lain pada penderita diabetes tipe II (tidak tergantung insulin). Satu hal yang perlu anda perhatikan, pastikan jenis olah raga yang anda pilih beresiko kecil untuk terluka, karena pada penderita diabetes, luka akan lebih sulit disembuhkan dibanding orang normal. Juga pastikan untuk selalu mengenakan alas kaki (sepatu) yang baik saat berolahraga—dilarang keras berolah raga dengan kaki telanjang, apalagi di permukaan yang tak rata—karena untuk alasan yang kurang lebih sama seperti diatas, penderita diabetes lebih mudah terluka dan terkadang mereka tidak menyadari kulitnya terluka karena sarafnya sudah kebal, sementara bila sudah terluka, penyembuhannya makan waktu lama.

Artritis
Rasa nyeri, peradangan dan kekakuan sendi yang biasa terdapat pada artiritis dapat dikurangi secara signifikan dengan aktivitas fisik, yang meningkatkan suplai darah ke otot, meningkatkan fleksibilitas sendi, dan memacu kekuatan otot, tendon dan ligamen.

Depresi dan Gangguan Mood
Penelitian menunjukkan bahwa pada kasus-kasus tertentu, aktivitas fisik saja mampu mengurangi gejala klinis depresi dan rasa cemas. Pada sebuah penelitian baru-baru ini dengan subyek 156 pria dan wanita berusia diatas 50 tahun yang secara klinis dinyatakan menderita depresi, yang diterbitkan tanggal 25 Oktober 1999 di Archives of Internal Medicine, ditemukan bahwa olahraga dapat memperbaiki mood setelah 16 minggu bersama dengan pemberian obat antidepresan. Para ahli percaya bahwa olahraga aerobik memicu pelepasan endorfin dan zat-zat kimia pada otak lainnya yang mempu memperbaiki mood dan mengurangi rasa sakit.

Tentunya masih banyak kondisi atau penyakit lain yang dapat diatasi atau dicegah dengan olahraga sedang secara teratur—yang didefinisikan oleh sang dokter bedah sebagai aktivitas apapun yang mampu membakar 150 kalori sehari, atau 1000 kalori seminggu. Hal ini kira-kira sebesar apa yang dibakar seorang dengan bobot 75 kilogram yang membersihkan rumah atau mencuci mobil selama terus-menerus selama 30-45 menit, 15 menit menggali tanah atau 20 menit berjalan cepat.

Meski demikian, tetap saja kesadaran akan hal ini masih rendah. Di AS saja, hanya 22 persen yang cukup berolahraga untuk mempertahankan jantungnya agar tetap sehat, begitu menurut laporan Asosiasi Jantung Amerika. Sedangkan 54 persen dari mereka enggan beraktivitas sama sekali. Dr. Elrick tampaknya tak dapat memahami mengapa masyarakat lebih suka berada dalam batas rata-rata bila menyangkut masalah kesehatan, sementara amat kompetitif di aspek yang lain. "Itulah filosofi kebudayaan modern," ujarnya. "Misalnya di bidang olahraga (prestasi), orang saling berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik, untuk menang. Hanya di bidang kesehatan saja tampaknya orang lebih suka menjadi ‘yang sedang-sedang saja’ atau berada dalam batas rata-rata."


Seputar Bulutangkis
bulutangkisindonesia.blogspot.com

13 February 2007

Ukuran Lapangan Bulutangkis


Badminton playing court dimensions

The court is rectangular and divided into halves by a net. Courts are almost always marked for both singles and doubles play, although the laws permit a court to be marked for singles only. The doubles court is wider than the singles court, but the doubles service court is shorter than the singles service court.

The full width of the court is 6.1 metres, and in singles this width is reduced to 5.18 metres. The full length of the court is 13.4 metres. The service courts are marked by a centre line dividing the width of the court, by a short service line at a distance of 1.98 metres from the net, and by the outer side and back boundaries. In doubles, the service court is also marked by a long service line, which is 0.78 metres from the back boundary.

The net is 1.55 metres (5 ft 1 inch) high at the edges and 1.524 metres (5 ft) high in the centre. The net posts are placed over the doubles side lines, even when singles is played.

Surprisingly, there is no mention in the Laws of a minimum height for the ceiling above the court. Nonetheless, a badminton court will not be suitable if the ceiling is likely to be hit on a high serve.


Untuk memenuhi kebutuhan merancang pembangunan lapangan bulutangkis, saya mengambil gambar dari Wikipedia untuk mendapatkan ukuran standar lapangan bulutangkis.

Untuk mendapatkan gambar dalam bentuk tiga dimensi dapat dilihat dilihat di Badminton_court_3d_small.png (626 × 360 piksel, ukuran berkas: 19 KB, tipe MIME: image/png)


Seputar Bulutangkis
bulutangkisindonesia.blogspot.com


18 January 2007

Mengenal Bulutangkis


Bulutangkis Sebagai Olah Raga, Rekreasi dan Sosialisasi


Bulutangkis adalah cabang olah raga yang sangat popular di Indonesia. Kita dapat melihat begitu banyak lapangan bulutangkis terbuka di sekitar pemukiman. Malam hari saat cuaca cerah, untuk menghalau penat dan tegang setelah bekerja seharian penuh, warga berkumpul di sekitar lapangan bulutangkis. Di lapangan terbuka yang sederhana dan diterangi lampu neon seadanya, warga sekitar kampung bersimbah peluh bermain bulutangkis dengan gembira.

Para veteran pasti masih ingat dengan lampu patromak yang digantung dan lapangan yang dibatasi dengan bilah bambu. Mereka yang menunggu giliran bermain kumpul di pinggir lapangan, berbincang tentang segala masalah sambil diselingi humor-humor segar. Untuk sebagian besar masyarakat Indonesia, bulutangkis adalah sarana untuk mempertahankan kebugaran, rekreasi dan sosialisasi yang murah dan meriah.

Olah raga bulutangkis di Indonesia semakin berkembang dengan bertambahnya jumlah gedung olah raga (GOR) bulutangkis. Mereka yang ingin melakukan olah raga bulutangkis secara teratur, tanpa diganggu oleh hujan dan angin, sangat dibantu oleh keberadaan GOR tersebut. Dari sore hingga tengah malam, jadwal pemakaian lapangan setiap GOR tampak sangat padat. Hal ini menunjukkan antusiasme masyarakat dalam melakukan olah raga bulutangkis

Seiring dengan perkembangan tersebut, berbagai klub pembinaan olah raga bulutangkis tumbuh di berbagai pelosok. Kesadaran masyarakat luas tentang manfaat bulutangkis sebagai olah raga mendapatkan bentuknya dalam klub pembinaan usia dini. Juga, keinginan dan dukungan para orangtua untuk memberi anak-anak kegiatan yang menyehatkan dan menyenangkan menjadi lahan subur untuk tumbuhnya klub-klub pembinaan. Sekarang, dapat dilihat begitu banyak anak-anak usia sekolah dengan semangat yang luar biasa terlibat aktif dalam berbagai klub pembinaan bulutangkis.

Bulutangkis Prestasi

Banyak orang menikmati aspek sosial dan rekreasional dari permainan bulutangkis untuk “menjaga kebugaran”. Sebagian pemain pasti ada yang merasakan bahwa kemenangan dalam permainan bulutangkis memberikan kepuasan luar biasa dan menambah kesenangan dalam olah raga ini. Penikmat permainan bulutangkis menyadari bahwa kemungkinan menang akan semakin bertambah bila permainan tersebut dilakukan dalam keadaan bugar. Disinilah muncul pertentangan: apakah seseorang bermain untuk menjaga kebugaran atau menjaga kebugaran untuk meraih kemenangan dalam permainan? Pilihan jawaban yang manapun, untuk kebanyakan orang, dalam tingkat apapun permainannya, ingin menjadi pemain yang lebih baik. Untuk itu, kita perlu mengenal lebih jauh olah raga bulutangkis yang menyenangkan dan menyehatkan ini.

Keunikan atau ciri khas permainan bulutangkis terletak pada aturan bermain, ukuran dan bentuk lapangan, alat permainan yaitu raket dan kecepatan shuttlecock, sering disebut kok atau bola. Dalam perbincangan di pinggir lapangan saat beristirahat, kawan-kawan sering bertanya, berapa kecepatan tertinggi luncuran shuttlecock? Atlit bulutangkis yang mana yang paling kuat pukulan smashnya? Bagaimana kita dapat melatih kemampuan tubuh agar dapat melakukan pukulan yang menghasilkan luncuran maksimal? Untuk sementara ini, SEPUTAR BULUTANGKIS akan memberikan satu rangkuman dari pencarian jawaban tersebut.

Pertama, luncuran kok bulutangkis dapat mencapai kecepatan 180 mph (180 mil per hour atau sekitar 80 meter per detik). Itu lebih cepat dari
serve tenis, dan kecepatan seperti ini sering muncul dalam rally pada pemain tingkat tinggi. Pemain atau pasangan pemain harus menjaga agar shuttlecock tidak jatuh dalam wilayahnya dalam sebuah lapangan bulutangkis yang telah ditetapkan ukurannya.

Untuk lebih jelas mari kita bandingkan statistik antara pertandingan bulutangkis dan pertandingan tennis. (Catatan:
pada perbandingan ini, sistem penilaian pada bulutangkis menggunakan service point)


Tenis

Bulutangkis

Lama Pertandingan

3 jam 18 menit

1 jam 16 menit

Bola/Kok dimainkan

18 menit

37 menit

Intensitas pertandingan

9 %

48 %

Pukulan

1004 kali

1972 kali

Pukulan per rally

3,4 kali

13,5 kali

Cakupan jarak

2 mil (3,2 km)

4 mil (6,44 km)

Perbandingan antara final Wimbledon dengan final kompetisi bulutangkis dunia menunjukkan bahwa atlit bulutangkis membutuhkan kondisi tubuh puncak. Dalam pertadingan dengan 3 set, selama 45 menit waktu pertandingan kok meluncur selama 20 menit. Dalam waktu itu, pemain membuat 350 perubahan arah dengan sudut 90 derajat atau lebih, dan memukul kok sekitar 400 kali. Sekitar 150 kali pukulan di antaranya dengan putaran tangan penuh. Denyut jantung meningkat dari 72 denyut/menit ke 125 denyut/menit untuk orang dalam kondisi normal.

Untuk bisa ikut dalam kompetisi bulutangkis seperti itu, atlit bulutangkis membutuhkan daya ledak, refleks secepat cahaya dan kemampuan koordinasi tangan-mata yang cepat. Pertandingan bulutangkis meliputi tindakan dengan konsentrasi tinggi yang konstan; berlari ke depan, melompat, mengganti arah, meregang, berlari ke belakang, melempar dan memukul. Sehingga ada penelitian yang menyatakan bahwa bulutangkis merupakan the finest conditioning game activities.

Dengan gambaran seperti itu, para pelatih dan orangtua yang serius dalam pembinaan bulutangkis untuk anak usia dini haruslah memperhatikan semua prasyarat yang mendukung kebugaran sang anak. Peminat bulutangkis, orang tua, atlit dan pelatih harus dapat membedakan antara bermain bulutangkis untuk kebugaran dengan melatih kebugaran untuk bertanding bulutangkis.

Untuk penjelasan umum tentang bulutangkis dalam bahasa Indonesia: gambaran permainan, peraturan, ukuran lapangan dan sejarah bulutangkis dapat dilihat di sini. Untuk mendapatkan gambaran lengkap tentang bulutangkis dan semua link yang wajib dikunjungi oleh peminat bulutangkis singgahlah di
sini.


Seputar Bulutangkis
bulutangkisindonesia.blogspot.com


“ATHLETES FIRST, WINNING SECOND”